Tampilkan postingan dengan label Destinasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Destinasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Desember 2015

Pulau Keakease yang Bikin Lupa



Entah apa artinya Keakease, saya tak sempat lagi bertanya ketika dari jauh, dari atas perahu nelayan yang saya tumpangi, panorama pulau ini begitu menggoda. Pantai berpasir putih, sejumlah vegetasi hidup subur di atasnya; pertanda ekosistem di pulau ini masih baik. Begitu perahu bersandar, saya langsung lupa, mengapa pulau ini disebut Keakease.

Pulau yang berada di koordinat 0° 30' 23.000" LU dan 121° 37' 50.000" BT ini masuk dalam wilayah Kecamatan Wonggarasi, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Wonggarasi, jika ditarik garis lurus, jarak menuju pulau ini sekitar 1 kilometer.

Kasat mata, pulau ini seperti jarang sekali disinggahi orang. Kontur pulau ini berundak-undak. Ada kubangan yang menghidupi sejumlah hewan kecil di dalamnya. Ada bunga-bunga khas tumbuhan pantai. Menyenangkan bisa berada di pulau ini.

Namun setelah jeli melihat setiap sudut pulau ini, ternyata banyak jejak manusia yang sudah bersandar di pulau ini; puntung rokok, sepatu anak-anak dan bungkus makanan ringan. Tak berserakan memang, tapi cukup mengganggu.

Saya tak sampai menyelami kehidupan bawah lautnya, tapi melihat dari atas saja, meski samar-samar, saya bisa menebak bagaimana terumbu karang di bawah sana tumbuh dan pasti menarik untuk dinikmati mereka yang suka menyelam.

Yang lebih menakjubkan dari pemandangan di pulau ini adalah, saya bisa melihat sejumlah pulau yang berada di sekitarnya. Pulau-pulau tak berpenghuni dan sama cantiknya.

Arah barat laut dari Pulau Keakease, terdapat Pulau Samaunu di koordinat 0° 30' 49.212" LU dan 121° 37' 10.180" BT. Lebih dekat ke daratan Pohuwato, masih ada dua pulau; Limboku Da’a di koordinat 0° 31' 42.000" LU dan 121° 38' 17.000" BT dan Limboku Kiki di koordinat 0° 31' 30.000" LU dan 121° 38' 45.000" BT.

Sebelum sampai pulau ini, jika berperahu dari TPI Wonggarasi, ada juga Pulau Olinggobe namanya. Pulau di koordinat 0° 30' 6.000" LU dan 121° 39' 27.000" BT ini pernah menjadi pusat perdagangan ikan hidup. Tapi sejak tahun 2000-an hiruk pikuknya lenyap. Kabarnya pengusaha ikan hidup asal China itu menutup bisnisnya lantaran populasi ikan di perairan itu sudah tak bisa diandalkan jadi komoditas lagi.

Takjub rasanya berada di tengah pulau yang dikelilingi pulau-pulau tak berpenghuni di sekitarnya. Memang ada sejumlah gubug yang berdiri di atas pulau-pulau tadi. Tapi itu hanya tempat peristirahatan para nelayan yang lelah mengarungi laut untuk sementara, badaseng istilahnya dalam bahasa setempat.

Layaknya daerah lain di Sulawesi, penorama laut Gorontalo memang membius siapa pun yang memandangnya. Ada 123 pulau yang tersebar di tiga kabupaten di Provinsi yang sudah mendeklarasikan kemerdekaannya pada 23 Januari 1942 ini. Ada 53 pulau di Kabupaten Gorontalo Utara, 22 di Kabupaten Boalemo dan 48 pulau di Kabupaten Pohuwato.

Indonesia memang kaya, Indonesia memang indah. Sangat menantang memang untuk menelusurinya. Tapi jangan lupa, kekayaan dan keindahan itu tak sepenuhnya menjadi hak kita.
Tidakkah teman-teman kita yang belum sempat berkunjung juga punya hak yang sama, bukankah miris jika kita hanya mewariskan cerita kekayaan dan keindahan itu pada generasi kita kelak, sementara mereka tak pernah dapat membuktikan kesombongan kita itu karena kita menebar sampah dan merusak ekosistemnya hari ini.

Posted by Deny Ahmad Furqon

 

Lumba lumba Pantai Lovina



Perjalanan kali ini adalah menuju Pantai Lovina. Bagi yang memilih Pulau Bali sebagai tempat berlibur maka menyelipkan Pantai Lovina sebagai salah satu objek wisata yang akan dikunjungi adalah tepat!

Lokasinya lumayan jauh memang, yaitu sekitar 9 km sebelah barat kota Singaraja, sedangkan dari kota Denpasar memerlukan waktu tempuh sekitar 2-3 jam dengan kendaraan bermotor dalam kondisi normal.

Apa sih keistimewaan pantai Lovina? Namanya juga pantai, pasti banyak pasirnya hehehe. Tapi yang unik dari Pantai Lovina ini adalah arti dari namanya sendiri Lovina, konon diambil dari 2 kata Love dan Ina, Menurut A.A. Panji Tisna,tokoh adat setempat. Lovina memiliki makna filosofis, campuran dua suku kata "Love" dan "Ina". Kata "Love" dari bahasa Inggris berarti kasih yang tulus dan "Ina" dari bahasa Bali atau bahasa daerah yang berarti "ibu". Kemudian arti "Lovina" adalah "Cinta Ibu" atau arti luhurnya adalah "Cinta Ibu Pertiwi". Sangatlah membanggakan!


Keistimewaan lainnya adalah Pantai ini banyak dihuni oleh kawanan ikan lumba-lumba, yang menjadikan pantai ini dikenal dengan natural Dolphin Shownya. Betul! kita bisa melihat lumba-lumba berkejar-kejaran dalam kelompok kelompok yang berjumlah banyak. menyenangkan sekali.

Untuk mendapatkan pertunjukkan yang menakjubkan itu, maka yang harus kita 'korbankan' :

  • Waktu Tidur. Disarankan dengan sangat! Untuk datang pagi buta untuk sekalian melihat sunrise, untuk itu jika kita menginap di area Denpasar dan sekitarnya, maka harus berangkat sekitar jam 2 pagi waktu setempat. Apabila kesiangan kita bakal susah cari perahu dan kehilangan moment sunrise yang menakjubkan.
  • Biaya untuk sewa kendaraan.Harus menggunakan kendaraan pribadi atau ikut paket tour, atau menyewa kendaraan, banyak agen rent car tersebar dipenjuru Bali. Saya menyarankan untuk menyewa mobil, krn lebih effisien terlebih jika bepergian bersama teman - teman, bisa lebih murah biayanya.
Perjalanan menuju Pantai Lovina sangat mudah, tinggal mengikuti rambu jalan menuju Singaraja, menyusuri jalan aspal yang juga merupakan jalan utama.

Sesampainya di Area Pantai Lovina, biasanya (jika tidak kesiangan) kita akan disapa oleh calo atau bahkan pemilik perahu langsung, yang menunggu dipinggir jalan menuju pantai, maka transaksi lgs dilakukan ditempat, untuk menyewa perahu yang bisa mengangkut sampai dengan 5 penumpang ini dikenakan biaya sekitar Rp 60.000/orang (bisa ditawar, bisa juga tidak). Setelah sepakat maka kita akan dikawal menuju perahu, dan mulai menuju laut sekitar pukul 5 pagi. Udara masih sejuk, angin berhembus tenang, seiiring mesin perahu berderu memecah riak - riak pantai. Durasi melaut sekitar 2 jam (karena diatas jam 7 pagi sinar matahari mulai terasa menyengat).

Menyaksikan sang surya menyeruak dari kegelapan dan menyemburkan bias warna jingga ke langit dari atas perahu kayu sederhana diatas laut lepas, seiring dengan kawanan lumba-lumba yang mulai genit berlompatan dan berkejar-kejaran, sungguh pengalaman yang tidak bisa dilupakan, terbayarlah mata sepet yang dari tadi nagih secangkir kopi karena harus bangun terlalu pagi. Luar Biasa!
Keindahan alam yang harus selalu kita jaga, Indonesia yang akan selalu kita banggakan, warisan besar yang harus selalu kita kawal sampai kapanpun, Khatulistiwa kami tercinta.

Estimasi perhitungan biaya perjalanan hingga tulisan ini dimuat :

- Sewa mobil 24jam tanpa sopir (avanza/apv) : Rp.200.000
- Bensin : Rp.200.000
- Sewa perahu perorang: Rp. 60.000. Jika bepergian dengan 4 orang biaya bisa ditanggung bersama.

Selamat piknik!

Posted by Guts Wateva

Mengeruda Hot spring, Soa. Bejawa Flores

Saya cukup terkejut ketika Guide kami Pak Dino bilang, "besok
siap-siap jam 6 pagi bawa alat mandi, handuk dan baju ganti," ujarnya.
Kami terdiam sejenak karena masih belum paham dengan apa yang di
maksud olehnya. Apalagi mengingat tempat Yang kami kunjungi Ini
termasuk cukup dingin, kami berada di ketinggian ??? DPL.

Cukup diketahui, Bajawa Ini daerah tertinggi kedua di Flores setelah Ruteng.
Adalah Bajawa, Negri di atas awan. Ungkapan itu lebih cocok untuk
tempat ini. Dari tempat ini, kami dapat melihat awan yang menutupi
sebagian daerah Bajawa dengan sejumlah gunungnya yang mengelilingi pulau tersebut serta hamparan lautan di kejauhan. Malam hari pun yang terlihat hanya kerlap-kerlip lampu dari rumah para penduduk setempat.

Terlihat barisan gunung menjulang diantara cahaya matahari yg
terbenam. Aaaah..., Flores sungguh tidak berhenti memberi kami
pemandangan yang memukau, dari sejak kami bangun dari tidur sampai malam pun kembali tiba.

MENGERUDA HOT SPRING

Mengeruda hot spring berada di lokasi Kampung Mengeruda Soa, kurang lebih 25 km dari Bajawa, Ibu Kota Ngada. Menurut kepercayaan orang lokal, Mengeruda Hot spring Ini biasanya digunakan masyarakat setempat untuk melakukan pengobatan tradisional, terutama penyakit kulit.

Hari sudah pagi. Jam 6.30 kami berangkat dari hotel. Dengan membawa semua peralatan mandi seperti yang sudah di beritau guide, kami pun berangkat menuju tempat yang diceritakan.
Perjalanan sungguh mengesankan. Kami melewati kampung-kampung dengan
pemandangan kesibukan pagi hari penduduk setempat. Terlihat anak anak pergi sekolah dengan menaiki mobil pick up terbuka. Tanpa memperhatikan keselamatan diri nya, mereka asik bercanda gurau. Memang sebagian dari mereka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk mencapai sekolah. Sebagian dari mereka pun datang ke sekolah tanpa menggunakan sepatu. Sebuah pemandangan yang tak bisa saya dapat di berbagai kota besar.

Mereka melambaikan tangan sambil berteriak, "Halloo mister..!" Entah
cuma kata mister yang mereka tau untuk semua turis lokal mau pun
international atau mereka sengaja meledek saya. Dalam hati
bertanya-tanya sambil tersenyum melihat keceriaan mereka di pagi hari.


"Aaah Kerbau Jawa..!" Begitu kata guide kami sambil menunjuk ke arah sepeda motor yang menarik box untuk penumpang dan alat pematang sawah di depan motor tersebut. Belum pernah saya melihat motor seperti ini sebelumnya. Motor yang di gunakan untuk transportasi dan juga di sawah.
Sekian jauh melintasi perkampungan, perkebunan dan hutan bambu,
akhirnya kami pun tiba di Pemandian air panas ini, Mengeruda hot
spring.

Tersedia areal parkir yang cukup luas, dan belum ada satu pengunjung
pun pagi itu. Mungkin karena ini Sabtu pagi, jikalau kami datang pada
hari minggu atau hari libur nasional akan beda lagi cerita nya. Tempat
Ini menjadi tempat liburan penduduk lokal, Mau pun manca negara.
Dengan peralatan mandi ditangan beserta tas dan kamera pun tak lupa
tertinggal, kami masuk ke areal pemandian. Tertegun sejenak karena
terdengar suara air deras, seperti air terjun. Suaranya begitu
mengesani, lalu kami pun sibuk mencari arah sumber suara dan
meninggalkan guide kami di belakang.

Terlihat air yang mengalir cukup deras dan bukan cuma dari satu arah.
Mata kami pun berbinar-binar layaknya anak kecil yang melihat
gula-gula idamannya.

Belum sempat kami turun ke air tersebut, guide kami mengingat kan
untuk berhati-hati karena air yang keluar dari sebelah kiri itu
dingin, kalau mau yang panas ada di depan sana. Dengan sigap nya kami pun mengikuti arahannya setelah mengabadikan beberapa moment di kamera.

Air ini lebih deras dari yang sebelumnya, saya pun meletakkan semua
barang bawaan di lantai dan turun untuk merasakan hangatnya air yg
mengalir Ini. Tak puas rasanya kalau saya tidak turun Ke bebatuan
itu, bebatuan tempat di mana dua mata air ini bertemu, air dingin dan
air panas.

Puas bermain dibebatuan untuk beberapa saat dan mengabadikan beberapa moment, saya kembali ke atas dengan maksud kali ini saya akan mandi di air yang mengalir Ini. Tak lama ada suara yang memanggil nama saya, guide yang di kejauhan memberi tanda agar datang ke tempat yang ditunjukannya.

Saya pun bergegas mendatangi nya, terkejut begitu takjub melihat
tempat yang menyerupai kolam renang bundar dengan airnya yang begitu jernih sehingga bebatuan di dasarnya pun terlihat. Disekelilingnya ditutupi oleh rindangnya pepohonan berhias uap yang timbul dari hangatnya air serta biasan cahaya matahari pagi yang masuk lewat celah-celah pepohonan menambah takjub di buat nya. Heaven! Is it for real?

Tanpa kata-kata saya langsung turun dan berbaring di atas air yang
hangat ini. Tidak perlu bath tub, tidak perlu water heater, tempat ini
begitu sempurna! Perlahan mata pun terpejam menikmatinya sembari bibir ini mengucap, " Terima Kasih Tuhan,".

Kolam alam ini di kelilingi pagar tembok yang sedikit lebih tinggi
sehingga tak terlihat dari luar. Air nya yang begitu Jernih membuat
dasarnya terlihat jelas. Dengan memakai sandal saya berjalan keliling
di mata air Ini, karena bebatuan kerikil di dasar nya dapat melukai
kaki kalau tidak hat-hati melangkah.

Kedalamannya hanya sebatas pinggang orang dewasa dan sebagian ada yang lebih dangkal lagi. Akar pohon besar yang mengelilingi mata air ini pun terlihat jelas dalam air. Suhu air dititik mata air ini terasa lebih panas di mana air hangat ini keluar.

Arus sedikit keras, dorongannya begitu terasa ketika saya berbaring di
batu yang alirannya mengarah keluar kolam menuju sungai kecil yang
mempertemukan dua mata air dingin dan air hangat ini. Ketika asik
berbaring ternyata kaki saya tertarik oleh arus dan sedikit terdorong
menuju arah sungai. Untung nya ada bebatuan tempat saya berpegang
sehingga keseimbangan kembali terjaga.

Kami dapat mencuci rambut dengan shampoo dan menggosok badan dengan sabun tanpa hilang busa nya seperti di pemandian air panas lainnya. Air di tempat Ini tidak mengandung sulfur atau belerang yang membuat bau tak sedap atau mengakibatkan busa dari shampoo dan sabun, hilang. Fresh water!
Puas setelah berlama-lama menikmati air hangat sangat membantu untuk mereleksasi punggung dan badan selama perjalanan. Pemandangan tempat ini pun membuat saya betah untuk berendam. Terlihat seorang ibu penduduk setempat datang dengan hanya menggunakan kain serta membawa pakaian untuk di cuci. Saya memperhatikan beliau untuk beberapa saat sambil berkata dalam hati begitu nikmat kehidupan sang ibu yang sederhana Ini.
Posted by Firmanto Hanggoro


Menengok Eksotisme Pantai Daerah Gunung Kidul Jogjakarta

Tak banyak diekspose, sesuai cara mencapai lokasinya, wilayah Gunung Kidul Jogjakarta memang menyimpan banyak eksotisme. Berikut dua diantaranya yang sudah disambangi beberapa awak Jurkhat.



Pantai Ngunggah

Kecamatan Panggang, Gunung Kidul, memang bukanlah daerah yang menjadi tujuan favorit bagi para wisatawan. Pasalnya, Panggang memang lebih minim destinasi wisata dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Gunung Kidul yang memiliki Pantai Baron, Pantai Indrayanti dan pantai-pantai berpasir putih lainnya.

Tapi siapa sangka, meski tidak seramai berbagai lokasi yang disebutkan tadi ternyata Panggang memiliki pantai-pantai tersembunyi yang tidak kalah indahnya seperti Pantai Ngunggah ini.
Karena lokasinya yang tersembunyi diantara bukit-bukit karang, membuat para wisatawan harus berjuang diserta niat dan usaha yang besar demi mencapainya.

Pantai Ngunggah cocok sekali bagi para petualang yang ingin menghabiskan waktunya dengan menyepi sembari menikmati keeksotisan pantai berpasir putih ini.
Beberapa waktu lalu Jurnal Khatulistiwa menyambangi pantai ini sambil camping ceria semalaman \m/






Pantai Gesing
 


Berada diantara bukit-bukit bertebing karang, Pantai Gesing memiliki keeksotismeannya tersendiri. Pantai yang dihuni masyarakat nelayan ini begitu indah dan patut dikunjungi. Air laut yang dangkal berwarna hijau kebiruan ditepian pantai berbalut pasir putih dan bebatuan karang dikedua sisinya menambah keelokan tempat ini.

 
Bersantai, sembari menikmati deburan ombak dan hembusan angin laut, menyantap ikan bakar sajian para ibu kampung nelayan atau sekedar berjalan jalan di bibir pantai, merupakan aktifitas yang dapat kita lakukan di sini.

Meski masih terbilang sulit menuju lokasi ini, bukanlah halangan untuk mengunjunginya. Jalur yang paling mudah adalah melalui dari Jogjakarta menuju Imogiri kemudian melanjutkan perjalanan kerah Panggang. Sebuah kota kecil di dipesisir pantai. Setelah sampai di daerah Panggang, kita harus melanjutkan perjalanan ke arah timur sampai bertemu pohon beringin besar yang berada Utara jalan. Dari pohon beringin itu kita berbelok ke kanan dan mengikuti jalan hingga sekitar 10km. Beberapa kilometer sebelum pantai, jalanannya tidak mulus, namun tetap bisa dilalui oleh kendaraan roda empat.

Untuk lebih mudahnya, dari Panggang, kita bisa menyewa jasa ojeg motor karena tidak ada angkutan resmi yang bisa mengantar wisatawan ke tujuan. Setelah sampai di Pantai Gesing, kita akan disuguhi pemandangan Samudra Indonesia yang terbentang luas. Letak Pantai ini menjorok dan berada dibawah bukit. Kita bisa menikmati Pantai dengan turun ke bibir pantai atau sekedar menikmatinya dari atas karang.

Pantai Gesing sungguh elok rupawan. Jauhnya perjalanan tidaklah berarti dengan pemandangan dan kearifan lokal yang disajikan penduduknya.

Posted by Firmanto Hanggoro



Baca juga :
Melongok Ngunggah, Eksotisme Pantai Tersembunyi

Rabu, 30 Desember 2015

Air Terjun Sri Gethuk


Sri Gethuk, mungkin masih sedikit asing nama ini ditelinga. 

bukan nama seseorang yang berjualan gethuk, melainkan nama sebuah air terjun yang tersembunyi disudut Yogyakarta, tepatnya di daerah Wonosari Gunung Kidul.

Relatif susah menuju tempat ini, karena belum ada angkutan umum yang melewati rute Sri Gethuk. Menggunakan kendaraan pribadi atau sewa mobil adalah salah satu cara yang jitu, terlebih jika pergi beramai-ramai akan terasa ringan biayanya.

Dari Kota Yogyakarta, tancap gas saja menuju Wonosari. Perjalanan sekitar 2-3 jam. disarankan start jam 4.30am atau bisa juga selepas subuh, karena pemandangan pagi hari disana sangat indah.
 
Sekitar jam 6 pagi lebih seuprit kami tiba dilokasi. Pos penjaga parkir masih kosong, begitu pula warung-warung yang menyediakan makanan atau minuman ringan dan masakan instan. terpaksa kami menunda sejenak ritual kopi pagi. Tapi semua itu tergantikan dengan sejuknya hawa dari dataran tinggi Yogya ini. hamparan perbukitan hijau dan semilir angin berhembus sejenak bisa menenangkan batin yang bergejolak karena hasrat ingin ngopi (hayah...).

Loket untuk rakit baru dibuka jam sekitar pukul 8 atau 9 pagi (tergantung musim, musim rame apa musim sepi)

Menuju spot air terjunnya sendiri ada dua alternatif, yang pertama dengan rakit dan yang kedua lewat darat menyusuri jalan setapak pinggir sawah. Jarak tempuhnya tidak terlalu jauh sekitar 10 menit jalan kaki.

Dan ternyata benar-benar menakjubkan, air terjun yg konon dihuni para mahluk jin ini.
Lokasi ini dipergunakan oleh Jin Anggo Menduro sebagai tempat penyimpanan salah satu instrumen gamelan dengan nama Kethuk. Hingga akhirnya menjelmalah nama air terjun itu menjadi Sri Gethuk. Menurutcerita penduduk setempat kadang dari arah air terjun terdengar bunyi gamelan tetapi jika ada manusia yang berusaha mencari maka sumber bunyi itu lenyap... 
 
Walaupun demikian tidak ada kesan horor sama sekali pada spot air terjun ini. airnya sejuk, jernih dan bisa buat mandi, tapi hati-hati tetap jaga standar keselamatan kalau pas berenang.

Lokasi di kawasan Desa Wisata Bleberan, tepatnya Padukuhan (Dusun) Menggoran, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, DIY atau sekitar 41 km arah Tenggara Kota Yogyakarta. Koordinat GPS: S7°56'36" E110°29'21".

RUTE PERJALANAN

Jogja - Jl. Wonosari- Patuk - Sambipitu - Lapangan Gading (Lanud TNI AU) - Pertigaan Timur Lapangan Gading ke kanan arah Playen - Perempatan Pasar Playen - Menuju Arah Paliyan - Ikuti Papan Petunjuk Air Terjun Sri Gethuk (Pertigaan ke arah Desa Banyusoca) - Arah Goa Rancang Kencono - Air Terjun Sri Gethuk.

atau
 
Jogja - Jalan Imogiri Barat - Jalan Panggang – Kecamatan Panggang – Kecamatan Paliyan – Menuju arah Pasar Playen – Sebelum Pasar Playen belok kiri (Pertigaan arah Desa Banyusoca) - Arah Goa Rancang Kencono - Air Terjun Sri Gethuk.


Posted By : Gutz Wateva

Pantai Pandawa


Nama Pantai Pandawa baru mencuat belakangan ketimbang pantai Sanur, Kuta dan pantai-pantai Bali yang sudah familiar kita dengar.
 
Dulu, warga sekitar menyebutnya dengan Pantai Kutuh, sesuai domisili pantai ini yang berada di Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.Jauh sebelum tahun 2000-an, akses menuju pantai ini cukup sulit. 

Untuk sampai di pantai ini, hanya orang yang berkendara roda dua saja yang bisa masuk, karena aksesnya masih seadanya. Itu pun kendaraan terpaksa ditinggal di atas bukit. Pengunjung harus turun ke bawah bukit melalui jalan setapak yang terjal, khas bukit kapur. 

Sampai pemerintah Bali membuka akses menuju pantai ini dengan membelah bukit kapur, Pantai Kutuh pun semakin banyak dikunjungi wisatawan, dan pantai ini pun dikenal dengan nama Pantai Pandawa, ini didukung dengan dibuatnya patung Pandawa berukuran besar di dinding bukit kapur yang dibelah.

Kata warga sekitar, kunjungan ke pantai ini semakin deras justru baru dua atau tiga tahun belakangan ini, itu setelah publikasi kian ramai bercerita tentang pantai 'ngumpet' ini.
Di kalangan bule, pantai ini justru kerap disebut sebagai Secret Beach. Itu karena lokasinya yang memang tersembunyi.



Posted By : Deny Ahmad Furqon

Pantai Pok Tunggal, Surga Tersembunyi yang Menantang Nyali

Memang sulit untuk sampai di pantai ini , dengan jalan yang sempit diapit oleh dua bukit karang dan bebatuan inilah yang menantang nyali. Ketika sampai disana kita akan diberi pemandangan yang indah sekali dengan warga yang sangat ramah, pasir putih yang berdesir dan suara gemuruh ombak yang santer ditelinga inilah yang membuat hati merasa tenang. 

Warga sekitaran Pantai ini pun mencari rezeki dengan mencari rumput laut di tepian pantai dengan ombak yang sangat amat ganas warga pun tak peduli nyawanya demi menafkahi keluarganya. Ketika malam menjelang suasana di pantai ini menjadi tenang hanya sebuah gemuruh ombak lah yang terdengar, walau listrik belum sampai ke Pantai Pok Tunggal warga sekitar pun menghangatkan malamnnya dengan lampu yang redup dari bantuan genset dan cahaya bulan. 

Untuk bisa mencapai sana jika kita berangkat dari DIY YOGYAKARTA kita bisa menyewa kendaraan roda dua atau roda empat, tetapi jika memakai kendaraan roda empat disarankan berhati-hati karena jalanan yang sempit dan bebatuan. Dari DIY YOGYAKARTA kita mengarah Gunung Kidul, disana kita melewati tempat wisata yang sudah santer di telinga "Gua Pindul" dan beberapa tempat wisata lainya. Selain pantai Pok Tunggal terdapat pantai-pantai lain bertetanggan dengan Pok Tunggal, seperti Pantai Siung yang biasa digunakan untuk Rock Climbing dan Pantai Jogan disana terdapat air terjun yang langsung turun ke laut walau hanya berketinggian kurang lebih 1-2 meter.


Posted By : Erlangga

Mencumbu Keelokan Intata, Pulau yang Pernah Tenggelam


Pulau-pulau kecil dan terdepan di garis Nusantara negeri ini merupakan syurga tersendiri bagi para petualang dan pecinta paronama keindahan. Satu dari ratusan pulau-pulau itu adalah Pulau Intata yang merupakan pecahan dari Pulau Kakorotan di Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara. Bukan hanya soal keindahan eksotis pantai dan warna-warni ragam biota lautnya saja yang membuat Pulau Intata sangat menarik untuk ditelusuri, lebih dari itu, menurut berbagai literatur sejarah yang pernah diceritakan baik secara lisan maupun tulisan ternyata pulau berpasir putih ini pernah tenggelam di abad yang lampau. Bagaimanakah pesonanya, mari kita telusuri…
Sinar matahari terasa mulai terik di kepala padahal hari masih pagi. Dengan menaiki Jukung bermotor, kami melayari lautan utara Sulawesi dari Pulau Marampit menuju Pulau Intata di pecahan Pulau Kakorotan. Angin sepoi-sepoi menyibaki rambut. Lautan cukup teduh dengan awannya yang berarak-riak menghiasi langit cerah. Di atas Jukung bermotor para penumpang terpesona pemandangan, diayun lembut buaian ombak laut.

Dari kejauhan Pulau Intata dan Pulau Kakorotan mulai terlihat di horison pandangan. Garis lautan sepanjang lebih kurang 800 meter tampak jelas membelah keberadaan dua pulau itu yang memang berdekatan. Cukup dengan pelayaran lebih kurang satu jam dari awal pelayaran di Pulau Marampit, menjejaklah kaki-kaki kami di pasir putih Pantai Intata.

Inilah Intata, pulau yang pernah tenggelam. Sebuah monumen peringatan terhadap bencana gempa besar disusul gelombang Tsunami telah menelan ribuan korban jiwa pada waktu itu, berdiri dingin di halaman rumah Ratumbanua atau kepala adat desa masyarakat di Pulau Kakorotan, seberang sana. Monumen peringatan itu kiranya bisa sedikit mejelaskan mengapa pulau ini dikosongkan semenjak peristiwa itu terjadi.

Tulisan-tulisan di dinding monumen setinggi lebih kurang dua meteran membentuk kerucut bersegi empat dan berwarna hitam itu berkata-kata, “SEBAHAGIAN DARATAN PULAU INTATA TENGGELAM DAN PENGHUNINYA HANYUT OLEH AMUKAN OMBAK YANG DATANG DARI ARAH TIMUR LAUT SEBELAH LAUTAN PASIFIK” itu, mengisahkan sekelumit peristiwa dari sebuah bencana besar pada 10 Oktober 1614.

Kendati masih terbayang-bayang kisah memilukan itu, pandangan mata kembali disapukan kepada selat yang memisahkan pulau ini dan pulau Kakorotan. Terlihat hamparan padang lamun di tepinya dan terumbu karang di bagian tengahnya, yang kesemuanya itu bisa kita lihat dengan jelas dari atas permukaan air karena air lautnya yang memang sangat jernih, hijau kebiru-biruan, sungguh menyejukkan mata.

Di tengah pulau lebih masuk lagi ke dalam hutan, kita dapat menjumpai beberapa lokasi yang dikeramatkan, salah satunya adalah goa tempat penyimpanan tengkorak para leluhur. Konon diceritakan mereka adalah para pejuang yang gugur saat berperang mempertahankan tanah mereka dari serangan bangsa Portugis. Namun sayang sekali, ada larangan bagi wisatawan mengambil gambar di sini.

Berjalan menyusuri tepian pantai ke arah timur pulau ini, kaum pelacong dapat menjumpai sebuah tempat berbentuk tidak biasa, dimana bebatuan karang bertumpuk menyerupai sebuah kapal besar jika dilihat dari kejauhan. Warga setempat percaya bahwa di zaman dahulu kala tempat ini merupakan sebuah dermaga yang memang bentuknya menjorok menghadapi laut ke arah Samudera Pasifik.

Selain keelokan pantai berpasir putih yang mengelilingi pulau, bagi pelancong yang tertarik pada kegiatan bawah laut seperti aktivitas snorkeling atau pun diving maka dunia bawah laut Intata menawarkan pemandangan terumbu karang yang masih alami dan terjaga keasriannya, berhiaskan ikan-ikan terumbu berwarna-warni. Hanya saja pengunjung harus mempersiapkan peralatannya secara mandiri karena di pulau ini belum ada jasa peminjaman alat-alat selam atau pun snorkeling tersedia.

Buat para pecinta camping, kiranya tempat ini bisa cukup dijadikan salah satu destinasi menikmati sunrise dan sunset sekaligus. Keheningannya yang menenangkan pasti akan membuat otak dan tubuh relaks. Cukup dua atau satu malam menginap di tempat ini sekiranya akan menjadi sebuah petualangan menarik. Sebab, permukiman penduduk yang bisa dijadikan homestay hanya terdapat di pulau seberangnya, Pulau Kakorotan.

How to Get There
Pulau Intata bisa dicapai dengan menggunakan Kapal Feri dari Pelabuhan Melonguane, Ibu Kota Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Pelayaran ini membutuhkan waktu 8 jam untuk sampai di Pulau Kakorotan karena sebelumnya kapal penumpang ini harus berlabuh juga di sejumlah pelabuhan pulau lainnya seperti di Pelabuhan Beo, Pelabuhan Pulau Karatung dan Pulau Marampit untuk menaikturunkan penumpang. Meski begitu, pemandangan laut di perairan Talaud tidak akan pernah membosankan. Dari Pelabuhan Pulau Kakorotan wisatawan dapat menyeberangi selat kecil pemisah dengan menyewa jukung bermotor 40 PK milik nelayan.

Hal lain yang harus diperhatikan saat berkunjung ke pulau ini adalah tidak tersedianya toko atau pun warung penjual bahan kebutuhan seperti makanan. Jadi segala kebutuhan logistik dan kebutuhan pribadi lainnya harus dipersiapkan selengkap mungkin sebelum menyeberang ke Intata ini. Sudah barang tentu mesin anjungan tunai mandiri (ATM) pun tidak akan ditemukan karena jaringan tenaga listrik pun tidak tersedia. Sehingga para penduduk dari pulau-pulau seberang pun menyebut Pulau Intata ini dengan sebutan “Pulau Gelap”.

Inilah Intata, sang pulau yang pernah tenggelam. Keelokannya begitu membuai mata. Menjadikannya sebagai salah satu destinasi wisata adalah bentuk dari kecintaan kita pada keelokan wajah dan pribadi Nusantara kita tercinta. Selamat berkunjung !

Posted By : Firmanto Hanggoro