Lagi-lagi saya harus ke Bekasi. Spesial, selain bertemu dengan
de koncoz
Jurnal Khatulistiwa, kali ini bakal diadakan lawatan spesial sekaligus
barter ilmu dengan adik-adik yang sangat bersemangat di Sekolah Alam
Anak Sholeh yang juga memiliki sebuah rumah baca yang dinamakan Rumba
HOS Tjokroaminoto. Tepatnya di Villa Mutiara Gading Blok E, Desa Setia
Asih, Tarumajaya, Bekasi. Rencananya, agenda bakal berlangsung
Sabtu-Minggu, 30-31 Mei 2015.
Keistimewaan kali ini dimulai dengan pencarian lokasi yang agak
membingungkan. Meski saya udah pernah ke lokasi dan udah dibekali dengan
peta ala GPS, dan tanya sana sini, tetap saja saya harus menyiapkan
tenaga ekstra untuk rela berpanas panas ria dengan iklim Bekasi yang
lain dari biasanya. Tak apalah, sesuatu yang layak memang patut
diperjuangkan, hehe.. Apalagi pas melihat Bang Agustian, si
founder
Sekolah Alam Anak Sholeh terlihat berdiri menyambut dan menunggu kami
di dekat pintu gerbang sekolah, rasa lega segera menjalari saya. Bukan
apa apa sih, merasa bersalah juga tak bisa datang tepat waktu. Untung
Bang Agustian nya baik, untung disiapin minuman, untung dikasih tempat,
untung…. banyak :)
Workshop Kamera Lubang Jarum dari Instruktur Muda
Siang itu, kawan-kawan dari Jurnal Khatulistiwa dan Bekasi Foto hadir
bersama untuk mengikuti rangkaian acara yang telah disepakati dengan
pihak Bang Agustian dari Sekolah Alam Anak Sholeh dan jaringan Sekolah
Raya. Serunya, kami datang bukan saja sebagai kakak-kakak yang akan
menyampaikan materi fotografi dan menulis saja, tapi kami juga datang
untuk menerima
sharing ilmu dari para instruktur muda Kamera
Lubang Jarum (KLJ). Apa tuh KLJ? Kamera sederhana yang terbuat dari
kaleng bekas yang kemudian dilubangi dengan jarum dibantu dengan lakban
hitam.
Usut punya usut, ternyata KLJ ini telah menjadi salah satu kurikulum
dalam pembelajaran SD Alam Anak Sholeh. Lah kok bisa? Bisa dong, karena
KLJ secara langsung mengajarkan proses pembangunan karakter dari awal
pembuatan hingga karya finalnya. Selain unsur mata pelajaran seperti
Fisika, Kimia, dan Matematika, seperti mengatur jarak foto untuk
mendapatkan cahaya yang pas, mencampur cairan untuk bisa mencetak hasil
foto, dan keasyikan yang lain.
Dari Jurnal Khatulistiwa saat itu ada saya, Enno, Erlangga ‘Botak’,
Rafly, Rio, Ucup, Rahmat, Arif ‘Cimba’, Adit, Tyas, serta Sena. Kami
semua bergabung dengan kawan-kawan dari Bekasi Foto yang saat itu
diwakili Bang Guts, Iddin, Heru, juga Syahrul ‘Buluk’. Semuanya antusias
mendengarkan pengarahan dari adik-adik
trainer, Ikhsan, Maulana,
dan disusul Nugraha. Kami kagum bukan saja karena mereka yang secara
usia masih muda sudah mampu berbagi ilmu dengan kami yang lebih dewasa,
tapi lebih dari itu. Kami begitu mengapresiasi prestasi yang sudah mampu
ditorehkan. Seperti Nugraha yang pada usianya yang masih 15 tahun sudah
dinobatkan sebagai instruktur muda oleh Komunitas Lubang Jarum
Indonesia. Begitu pula Ikhsan, dan beberapa kawannya yang lain yang
sudah pernah mengadakan lawatan ke Malaysia untuk berbagi tentang KLJ di
Permata Pintar, Universitas Kebangsaan Malaysia, sekolah setingkat SMA
disana.

“Potong persegi empat kecil, lalu di-ampelas sampai tipis, Kak..”,
Ikhsan berujar lantang. Nada suaranya kuat, sudah pantas kalau disebut
instruktur dan cukup membuat kami yang sebagian besar masih awam tentang
KLJ menjadi terheran-heran. Setiap hendak meyakinkan diri tentang
kelayakan lempengan aluminium yang sedang kami tipiskan untuk digunakan
sebagai rana, kami selalu bertanya, “udah belum, dik?”, Jawabannya,
,”Belum nih ka, dikit lagi” atau “Wah,sip sip udah.”. Saya geli sendiri
sambil bergumam dalam hati, cerkas juga nih anak.
Usai membuat KLJ yang bisa dibuat dari kaleng bekas sebagai bodi kamera,
lempengan aluminium sebagai rana, dan lakban yang menjadi penutup rana,
kami pun mengisi kamera yang kami buat dengan kertas fotonya di ruang
gelap yang disebut dark room. Sementara itu, Ikhsan mengajarkan membuat
cairan untuk digunakan mencetak hasil foto. Saya yang memang kurang
nyambung dengan hal-hal berbau teknis, cuma manggut-manggut pura-pura
mengerti. Hahaha.. Yang penting tahu prosesnya.
Yang paling seru adalah saat praktek memotret. Kami jadi menemukan alasan kenapa foto-foto jadul selalu berwajah tegang dan
flat face.
Kenapa emang? Ternyata mereka harus menunggu 10-20 detik untuk bisa
dipotret. Posenya harus dipertahankan selamaaaaaa itu, karena faktor
cahaya saat pengambilan foto. Kami pun ngakak ngakak karena geli menahan
pose juga. Wkwkwk. Betapa bersyukurnya kita dengan kecanggihan
teknologi saat ini ya..
Workshop Fotografi dari Bekasi Foto dan Diskusi Teras
Agenda dilanjutkan dengan workshop fotografi dari Bekasi Foto yang
disampaikan oleh Bang Guts Wateva. Kali ini, adik-adik yang udah sangat
fasih tentang KLJ dan sedikit dasar fotografi yang kurang lebih
nyambung, diajak untuk mengenal apa itu fotografi dan bermain-main
dengan kamera DSLR. Dibagi beberapa kelompok, mereka asyik bereksplorasi
berbagai gaya memotret didampingi kakak-kakak pendamping. Ada yang
takut megang kamera karena berat dan takut jatuh. Ada yang nggak mau
megang sama sekali karena pesimis nggak bisa, ada yang nyengir
kegirangan karena jadi obyek foto, ada yang nggak mau berhenti motret
meski waktu udah habis, dan tingkah unik yang lain. Ya, begitulah
mereka. Bagaimanapun mereka masih tetap anak-anak, hehe… Di akhir
workshop,
Bang Guts menyampaikan bahwa kalau melakukan semuanya dengan cinta,
termasuk cinta dengan dunia fotografi, maka uang adalah dampak positif
yang lain yang bekerja secara otomatis. Hm,
interesting!
Lepas
workshop tersebut, kami diajak Bang Agustian untuk
berdiskusi santai di teras Rumba HOS Tjokroaminoto dan sekaligus
ditraktir nasi goreng, yey! Bang Agus berkisah bahwa dulu awal-awal
mendirikan sekolah ini bermula dari 2006, masih ada anak-anak yang
mengintip dari jendela sekolah luar, untuk melihat proses belajar di
sekolah. Untuk apa? Karena mereka sendiri tak bisa menikmati kemewahan
itu. Keterbatasan ekonomi orang tuanya yang sebagian besar bekerja
sebagai buruh, pembantu rumah tangga, pemulung, atau pekerjaan serabutan
lainnya cukup menjadi alasan utama ketidakberdayaan mereka mengenyam
bangku sekolah.
Bermula dari itulah, Bang Agustian bersama beberapa kawan baiknya
mencoba memberikan alternatif pendidikan yang gratis tapi berkualitas
bak sekolah-sekolah unggulan. Dan,
alhamdulillah, berkat dukungan
relawan dan semua pihak termasuk Jaringan Sekolah Raya yang merupakan
afiliasi penggiat sekolah, sanggar belajar, padepokan, pondok pesantren,
taman baca, dan komunitas belajar, misi ini bisa berjalan lancar dengan
segala dinamikanya. Diskusi santai berlangsung akrab dan cukup membuat
kami semua yang ada disitu merenung. Meminjam istilah Bang Agustian,
akan ada dialektika alam semesta yang senantiasa mendengar dan
mengabulkan doa sang penabur kebaikan. Jadi, jangan ragu!
Workshop ‘Fun Writing’
Selepas menginap semalam, keesokan harinya, saya ditemani Bang Nana dari
Bekasi Foto melanjutkan agenda yang tersisa. Tak seramai kemarin,
karena beberapa kawan-kawan Jurkhat harus segera naik kapal untuk
menjalankan tugas berlayar di event akbar Ekspedisi Nusantara Jaya. Viva
kawan! Namun, tak kalah serunya, Minggu (31/05) itu, kami kedatangan
kawan-kawan baru dari jaringan Sekolah Raya. Ada kawan lama saya, Anwar
dan istrinya yang juga Direktur program Sekolah Raya, Nana Zuri. Ada
pula Salman dari blogfam, juga Ade dan Dias.


Diawali dengan pemutaran film berjudul ‘The Turtle World’ yang
berisikan pesan lingkungan, saya pun bermain-main dengan adik-adik dan
kakak-kakaknya untuk menuliskannya kembali dengan bahasa mereka disertai
dengan gambar-gambar yang paling diingat. Hasilnya, bisa dilihat di
rumba, jadi salah satu pajangan dinding:) Selepas itu, adik-adik saya
ajak untuk mengenal basic penulisan 5W + 1H dan bereksperimen dengan
karya foto KLJ mereka. Tujuannya, supaya mereka bisa membuat fotonya
lebih bercerita. Menurut saya sih, mereka udah punya
basic
menyusun kata-kata yang bagus, cuma perlu dirapikan sistematikanya aja.
Semoga ke depan, mereka bisa membuat semacam informasi kekinian tentang
aktivitasnya di sekolah dan rumba, bisa berupa mading, buletin, atau
dalam bentuk elektronik semacam blog. Semangat!
Akhirnya, diakhiri permainan ‘angin bertiup’ dan santapan makan siang yang maknyus di
homestay relawan
yang lagi-lagi disiapkan oleh Bang Agustian dan istri yang baik hati,
tidak sombong, dan rajin menabung, eh….hehe… kami semua pun berpisah dan
saling bertukar kontak untuk bisa bertemu lagi di agenda selanjutnya.
Thanks for everything
untuk jaringan Sekolah Raya dan SD Alam Anak Sholeh, Rumba HOS
Tjokroaminoto, Bekasi Foto, dan semua pihak yang udah ikut meramaikan.
Senangnya bisa berbagi:)
('thil)
Posted by Prita HW
Baca juga di :